Advertisemen
![]() |
| Evolusi Tikus Liar, Tahan Sakit Sengatan Kalajengking |
Siapa sangka seekor tikus gurun liar dapat
mengabaikan rasa sakit yang ditimbulkan oleh sengatan kalajengking. Berkat
evolusi, tikus yang kelaparan tak memedulikan rasa sakit demi melahap buruan
mereka, si kalajengking.Temuan ini diungkap para ilmuwan pada hari Kamis
(24/10) . Mereka menyatakan taktik bertahan hidup langka ini digunakan tikus
belalang saat menghadapi racun dari kalajengking kulit kayu Arizona di kawasan
selatan Amerika Serikat dan Meksiko.
Para tikus sepertinya menggunakan racun itu
sendiri untuk membuat kebal tubuh mereka dari sengatan menyakitkan. Sengatan
kalajengking kulit kayu Arizona dikenal paling menyiksa dan bahkan bisa
mematikan, demikian menurut pemimpin penelitian, Ashlee Rowe dari Universitas
Texas, Austin, seperti dilaporkan AFP. Sebagian besar orang yang pernah disengat
mendeskripsikannya rasa sakit seperti sensasi disulut rokok menyala lalu
ditancapi paku di atasnya.
Ketika tikus belalang terkena sengatan
kalajenking, mereka akan menjilatinya. Betul-betul sebentar, lalu selesai sudah,” ujar Rowe. Biasanya ketika seseorang disengat, rasa sakit akan
bertahan beberapa menit hingga beberapa jam.
Dalam eksperimen laboratorium, ilmuwan
mengamati, saat tikus putih biasa disuntikan bisa kalajengking kulit Arizona
pada bagian tapak kaki, mereka akan mengangkat tapak lalu menjilatinya cukup
lama. Ini tak terjadi ketika mereka disuntik air garam. Berbeda dengan tikus
belalang liar, saat disuntik air garam, mereka menjilatinya cukup lama.
Terlihat bahwa air garam lebih menggangu ketimbang sengatan bisa kalajengking
Arizona.Tujuan dari memberikan rasa sakit pada pada mamalia adalah untuk
menjamin kelangsungan hidupnya kalajengking sekaligus mengusir predator.
Begitulah makhluk belajar untuk bertahan
hidup. Hanya saja si predator juga belajar mengembangkan kemampuan baru dari
dalam tubuhnya untuk menahan sengatan. Pada mamalia, rasa sakit akan dikirim ke sistem
otak dan saraf dengan reseptor rasa sakit yang dikenal saluran sodium NaV1.7
dan NaV1.8. Percobaan lanjutan pada tikus menunjukkan saluran 1.7 langsung aktif
pada tikus rumahan saat terkena bisa kalajengking, tapi tidak pada tikus
liar.Sementara saat tersengat bisa, saluran 1.8 pada tikus liar secara tidak
biasa menggunakan asam amino untuk mengikat racun dan menyumbat reseptor rasa
sakit di dekatnya. Itulah yang membuat tikus lebih kebal rasa sakit sengatan
kalajengking.Temuan ini bisa memberikan penawar menarik bagi perusahaan obat
yang sedang berupaya mencari penghilang rasa sakit sempurna dan tak menyebabkan
kecanduan, para peneliti mengatakan dalam jurnal sains di AS.
Advertisemen

